Kinerja APBN Triwulan I Tahun 2026: Pendapatan, Belanja dan Defisit

Kinerja APBN triwulan I 2026 menunjukkan realisasi belanja negara yang lebih tinggi, dengan peningkatan pendapatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Narator
kinerja apbn triwulan I 2026
A-AA+A++

Narator.co – Kinerja APBN triwulan I 2026 menunjukkan adanya defisit seiring realisasi belanja negara yang lebih tinggi dibandingkan pendapatan.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) RI, pendapatan negara tercatat sebesar Rp574,9 triliun.

Baca Juga: Statistik Pendapatan Negara Triwulan I 2026

Sementara belanja negara mencapai Rp815,0 triliun hingga akhir Maret 2026.

Selisih antara keduanya menyebabkan defisit APBN sebesar Rp240,1 triliun.

Selain itu, defisit keseimbangan primer tercatat sebesar Rp95,8 triliun, yang mencerminkan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara di luar pembayaran bunga utang.

Dari sisi komposisi, penerimaan pajak menjadi penyumbang terbesar pendapatan negara dengan kontribusi sekitar 80 persen dari total pendapatan.

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) memberikan kontribusi lebih kecil, dan hibah menjadi yang terendah dengan nilai Rp0,1 triliun.

Secara keseluruhan, data APBN pada triwulan I 2026 mencerminkan kondisi fiskal di awal tahun yang ditandai dengan percepatan belanja negara, sehingga memengaruhi terbentuknya defisit anggaran.

Perbandingan Kinerja APBN Triwulan I 2025 dan 2026

Kinerja APBN pada triwulan I 2026 menunjukkan peningkatan pada sisi pendapatan dan belanja negara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan negara naik dari Rp520,4 triliun pada triwulan I 2025 menjadi Rp574,9 triliun pada triwulan I 2026, atau meningkat sebesar Rp54,5 triliun.

Jika dilihat dari belanja negara, terdapat peningkatan yang signifikan pada tahun 2026 dibandingkan dengan tahun 2025.

Realisasi belanja negara pada triwulan I 2025 tercatat sebesar Rp620,3 triliun, meningkat menjadi Rp815,0 triliun pada triwulan I 2026, atau bertambah Rp194,7 triliun.

Kinerja APBN: Defisit Hal yang Normal

Kenaikan belanja yang lebih besar dibandingkan pendapatan menyebabkan defisit APBN melebar dari Rp99,9 triliun pada triwulan I 2025 menjadi Rp240,1 triliun pada triwulan I 2026, atau bertambah Rp140,2 triliun.

Angka defisit yang diperoleh merupakan desain pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di awal tahun 2026 melalui belanja negara yang besar. Baca: Penjelasan Pemerintah Defisit APBN Kuartal I 2026

Besarnya realisasi belanja negara pada triwulan I 2026 didesain agar memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian.

Peningkatan belanja pemerintah di awal tahun dapat mendorong aktivitas ekonomi lebih cepat, terutama melalui proyek pembangunan, belanja kementerian/lembaga, serta program bantuan kepada masyarakat.

Selain itu, percepatan realisasi belanja negara di awal tahun 2026 diharapkan dapat mendukung peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB).

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *